Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar.

Setelah sebelumnya saya menulis PintuMasuk ke Dunia Filsafat, maka sudah saatnya anda penggemar Mahardhika.net mengetahui lebih lanjut tentang pintu masuk dunia filsafat. Kali ini menjelaskan cabang-cabang filsafat yang nantinya dipergunakan untuk mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu.

Filsafat itu selalu bersifat “filsafat tentang” sesuatu yang tertentu karena filsafat bertanya tentang seluruh kenyataan. Contohnya filsafat tentang manusia, filsafat alam, filsafat kebudayaan, filsafat seni, filsafat agama, filsafat bahasa, filsafat sejarah, filsafat hukum, filsafat pengetahuan dan seterusnya. Seluruh jenis filsafat tersebut dapat dikembalikan lagi kepada empat bidang induk, seperti dalam skema ini.

Epistemologi : pengetahuan tentang pengetahuan
Logika : menyelidiki aturan-aturan yang harus diperhatikan supaya berpikir sehat
Kritik ilmu-ilmu : menyelidiki titik pangkal, metode dan objek dari ilmu-ilmu
Ontologi : pengetahuan tentang “semua pengada sejauh mereka ada”
Teologi metafisik : (disebut juga teodise atau filsafat ketuhanan) berbicara tentang pertanyaan apakah Tuhan ada dan nama-nama tentang ilahi
Antropologi : berbicara tentang manusia
Kosmologi : (disebut juga filsafat alam) berbicara tentang alam, kosmos
Etika : (disebut juga filsafat moral) berbicara tentang tindakan manusia
Estetika : (disebut juga filsafat seni) menyelidiki mengapa sesuatu dialami sebagai indah
Sejarah filsafat : mengajarkan apa jawaban pemikir-pemikir sepanjang zaman

Tidak semua filsuf setuju dengan pembagian seperti yang diuraikan diatas. Ada filsuf yang menyangkal kemungkinan ontologi atau seluruh metafisika. Namum pembagian ini adalah skema yang paling klasik dan paling umum diterima.

EPISTEMOLOGI

Apa itu pengetahuan? Apakah sesuatu hasil dari pengamatan? Dari akal budi? Atau justru dari interaksi dari panca indera dan akal budi? Ataukah pengetahuan yang hanya bersifat intuitif? Apakah kita akan mendapat kepastian bahwa pengetahuan kita benar? Apakah pengetahuan itu tidak bersifat hipotesis?

Pertanyaan-pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan pengetahuan, tentang batas-batas pengetahuan, tentang asal pengetahuan dibicarakan dalam epistemologi. Kata epistemologi berarti “pengetahuan (Yunani:logia) tentang pengetahuan (episteme)”.Dalam sejarah filsafat, terlihat suatu gerakan gelombang dari periode-periode perkembangan dan zaman-zaman skeptisis. Setiap akan mencapai suatu puncak, orang akan mulai ragu-ragu. Orang bertanya, apakah didunia ini memang pernah akan mampu mencapai suatu kepastian tentang kebenaran pengetahuan kita.

Pemikir-pemikir seperti Augustinus dan Descrates memperlihatkan bahwa skeptisisme tidak dapat dipertahankan secara konsekuen. Skeptisis-skeptisis menyangsikan tentang apa saja, sekurang-kurangnya meyakini bahwa apa saja dapat diragukan kebenarannya. Kelihatannya setiap manusia juga seorang skeptisis, menerima bahwa setidak-tidaknya ada hal yang pasti.

Ada dua aliran falsafi yang mempunyai peranan besar dalam diskusi tentang proses pengetahuan yaitu rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme (Latin:ratio ‘akalbudi’) mengajarkan bahwa akal budi merupakan sumber utama pengetahuan. Rasionalisme mempunyai akar-akar yang sangat tua, tetapi dalam zaman modern (setelah sekitar 1600) rasionalisme mendapat tekanan baru pada filsuf-filsuf seperti Descartes, Spinoza dan Leibniz. Lawan rasionalisme adalah empirisme (Yunani:empeiria ‘pengalaman’) mengajarkan bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi, bukan dari akal budi karena akal budi berisi tentang kesan-kesan dari pengamatan. Baru kemudian kesan-kesan ini dihubungkan oleh akal budi menjadi ide-ide majemuk. Tokoh-tokoh empirisme itu antara lain

EPISTEMOLOGI

Apa itu pengetahuan? Apakah sesuatu hasil dari pengamatan? Dari akal budi? Atau justru dari interaksi dari panca indera dan akal budi? Ataukah pengetahuan yang hanya bersifat intuitif? Apakah kita akan mendapat kepastian bahwa pengetahuan kita benar? Apakah pengetahuan itu tidak bersifat hipotesis?

Pertanyaan-pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan pengetahuan, tentang batas-batas pengetahuan, tentang asal pengetahuan dibicarakan dalam epistemologi. Kata epistemologi berarti

Pemikir-pemikir seperti Augustinus dan Descrates memperlihatkan bahwa skeptisisme tidak dapat dipertahankan secara konsekuen. Skeptisis-skeptisis menyangsikan tentang apa saja, sekurang-kurangnya meyakini bahwa apa saja dapat diragukan kebenarannya. Kelihatannya setiap manusia juga seorang skeptisis, menerima bahwa setidak-tidaknya ada hal yang pasti.

Ada dua aliran falsafi yang mempunyai peranan besar dalam diskusi tentang proses pengetahuan yaitu rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme (Latin:ratio ‘Spinoza dan Leibniz. Lawan rasionalisme adalah empirisme (Yunani:empeiria ‘BaconHobbes , Locke dan Hume .

Tetapi oleh Immanuel Kant, empirisme dan rasionalisme didamaikan. Kant memperlihatkan bagaimana peranan panca indera dan akal budi dalam suatu analisis raksasa dari seluruh proses pengetahuan dimana semua unsurnya yang berperan. Setelah Kant, epistemologi merupakan cabang filsafat yang sangat berkembang. Banyak filsuf masa kini lebih dikenal sebagai epistemolog.

LOGIKA

Logika (Yunani:logikos ‘berhubungan dengan pengetahuan’, ‘berhubungan dengan bahasa’) merupakan cabang filsafat yang menyelidiki kesehatan berpikir, aturan-aturan mana yang harus dihormati supaya pernyataan-pernyataan kita sah. Logika tidak mengajarkan apapun tentang manusia atau dunia. Logika hanyalah suatu teknik atau seni yang mementingkan segi formal.

Semua argumentasi itu betul kalau semua langkah dari argumentasi itu betul. Langkah-langkah ini terdiri dari kalimat-kalimat (proposisi-proposisi), dan setiap kalimat terdiri dari subjek dan predikat. Mari kita perjelas dengan sebuah contoh :

Jika semua orang Indonesia senang makan nasi   (A)

dan jika Parto seorang warga negara Indonesia     (B)

maka Parto senang makan nasi                           (C)

Argumen ini terdiri dari tiga kalimat. Kalimat A dan B disebut premis-premis dan kalimat C disebut konklusi. Setiap kalimat terdiri dari subjek (yaitu: ‘semua orang Indonesia’ dan ‘Parto’) dan predikat (yaitu: ‘senang makan nasi’ dan ‘warga negara Indonesia’). Nah, logika bertugas menyelidiki syarat-syarat yang harus dipenuhi supaya dapat ditarik sebuah kesimpulan yang sah. Usaha ini terlihat sederhana, tapi soal-soal yang dibicarakan dalam logika sangatlah kompleks. Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia

About

Roisun Kubangcalingcing

Posted in ps2 / winning eleven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Winning Eleven's Stats
  • 8,715,499 Gamers Coming
BELAJAR BISNIS EASY
DAFTAR ISI
Recent Cheat
Statistic
%d bloggers like this: