kaidah-kaidah saintifik

Sebagai awal dari pembahasan mengenai desain dan kebudayaan, dipaparkan teori Zaman Poros Prof. Karl Jaspers dari bukunya yang berjudul “Vom Ursprung und Ziel der Geschichte” yang ditulis pada tahun 1955. Karl Jaspers adalah tokoh filsafat sejarah dengan reputasi ilmiah yang tinggi di dunia. Semasa hidupnya, ia mengajar di Universitas Heidelberg dan Basel. Buah pikirannya yang tertuang dalam bukunya, antara lain, “Philosophic” (1932) dan “Vernunfi und existenz” (1935), ikut membentuk cara pandang filosofls manusia abad ini.

Teori Jaspers sengaja dibahas di bagian pertama dalam bab pendahuluan ini, selain untuk melihat sejarah kebudayaan dalam konteks yang lebih luas, terutama, dilihat dari struktur sejarah dunia, juga untuk memahami kedudukan desain serta sains dan teknologi dalam kerangka dan perspektif sejarah kebudayaan dunia. Sering timbul pertanyaan mengenai sejarah desain modern, tentang kelahiran dan keterlibatannya dalam wacana budaya, terutama bila dilihat dari perspektif sejarah kebudayaan Indonesia.

Sering ada pertanyaan mengapa bahasan tentang desain selalu bertolak dari kebudayaan Barat, mengapa tidak bertolak dari kebudayaan Timur atau malah dari sejarah Indonesia, dengan dalih dunia Timur juga telah mencapai kebudayaan yang tinggi. Apakah tidak ada teori yang dapat digali dari kawasan ini? Pada bahasan selanjutnya, dengan sistem pengelompokkan sejarah yang dibagi menjadi beberapa periode, akan terlihat jelas alur perkembangan sejarah yang pada akhirnya melahirkan metode berpikir yang menghasilkan desain modern.

Bila kebudayaan itu adalah rangkaian pencapaian nilai-nilai oleh umat manusia yang sifatnya lebih dari sekadar upaya untuk kelangsungan hidup biologis semata, maka kebudayaan yang demikian telah dicapai manusia beberapa ribu tahun yang lalu (Tallcot Parsons, Koentjaraningrat). Kebudayaan tinggi pertama yang tercatat dalam sejarah adalah kebudayaan yang terdapat di Sumeria, Babylonia, Mesir, dan Egea yang sudah ada sejak kira-kira 4000 tahun sebelum masehi. Selanjutnya, kebudayaan yang terdapat di kawasan India yang dikenal
sebagai kebudayaan pra-Aria yang masih ada hubungannya dengan : kebudayaan Sumeria. Kemudian, yang relatif masih samar-samar, adalah kebudayaan Cina kuno dari tahun 2000 SM.

Dengan ditemukannya bukti sejarah berupa tulisan, artefak, bangunan, karya seni, dan berbagai peninggalan lainnya dari zaman purba ini, maka hubungan antara manusia masa kini dengan sejarah pendahulunya menjadi lain. Pemahaman terhadap adanya rasa keterikatan bahwa kebudayaan manusia adalah kejadian sejarah yang berkesinambungan menjadi nyata. Kebudayaan manusia yang merupakan sebuah “continuum” nilai-nilai yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya adalah suatu kenyataan dan fakta sejarah. Dengan pemahaman dan kesadaran ini, manusia akan lebih arif dalam melihat dirinya, karena selalu menempatkan dirinya dalam konteks yang lebih luas dan meninggalkan berbagai prasangka yang sempit dan bersifat absolut.

Berbagai peninggalan kebudayaan tua yang tinggi mutunya menjadi penting artinya dalam konteks sejarah. Untuk pertama kalinya, setelah kegelapan yang meliputi masa silam prasejarah manusia (yang diperkirakan berjalan lebih dari 30.000 tahun), sejarah tidak lagi bertumpu pada berbagai tafsiran dan perkiraan atas temuan benda-benda prasejarah, seperti kapak batu, lukisan di gua, potongan-potongan tulang, dll. Akan tetapi, sejarah mulai bertumpu pada ber­bagai artefak sejarah yang secara lebih teliti dapat dibaca dan diinterpretasikan. Berdasarkan tulisan-tulisan kuno (sejauh yang sudah dapat dibaca) mengenai arsitektur, karya seni, dan benda-benda sejarah lainnya, manusia sekarang dapat mempelajari bahasa, sistem sosial, organisasi pemerintahan, dan kebiasaan- kebiasaan sosial pada masa itu.

Meskipun masih selalu terjadi bias perspektif dalam cara pandangnya karena manusia modern mempunyai kecenderungan sukar untuk melepaskan dirinya dari kerangka budaya zamannya, manusia modern masih dapat belajar dan me- nilai berbagai pencapaian dunia kognitif dan emosional pada masa kebudayaan kuno. Dengan bertambahnya pengetahuan, wawasan manusia modern menjadi luas. Hal ini bermanfaat untuk menentukan sikap dalam menghadapi wacana sosio-budaya yang terjadi.

Inti pemikiran Jaspers adalah adanya tahapan kebudayaan dalam sejarah manusia yang dikelompokkan dalam beberapa periode. Periode terpenting dalam tesisnya adalah yang ia sebut dengan Achsenzeit, yang artinya adalah “Zaman Poros” (Achse = Poros). Pada masa itu terjadi terobosan sejarah yang menjadi dasar terjadinya lompatan kebudayaan yang menuju arah yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu terobosan kebudayaan yang memungkinkan lahirnya kebudayaan yang berdasarkan sains dan teknologi. Kebudayaan ini kemudian mendominasi arah kebudayaan umat manusia pada abad 20. Abad di mana kebudayaan dari belahan dunia lainnya akan tergiring menuju arus budaya sains dan teknologi, dan dunia akan menuju pada kebudayaan universal dan global. Tesis teori Zaman Poros (Achsenzeit) menyatakan bahwa dalam sejarah umat manusia terobosan sejarah dan lompatan kebudayaan yang penting dan menentukan terjadi pada Zaman Poros ini.

Pada periode tersebut (800-200 tahun sebelum masehi) tumbuh pusat kebudayaan umat manusia yang memungkinkan berkembangnya kebudayaan modern yang kita kenal sekarang ini. Peradaban tinggi tersebut adalah Barat (Abendland), Byzanz, Islam, India, dan Cina. Pengaruh cara berpikir Yunani sangat menentukan arah kebudayaan Barat (Abendland). Filsuf-filsuf dunia dari Yunani melahirkan ajaran dan metodologi berpikir yang beberapa ratus tahun kemudian menjadi landasan “kebudayaan ilmu pengetahuan” yang mem- pengaruhi seluruh dunia. Dampak pemikiran besar yang tercetus pada Zaman Poros ini masih menjadi prinsip etika cara berpikir manusia masa kini. Pada periode ini terbentuk berbagai kategori pemikiran yang masih berlaku hingga sekarang. Setelah Zaman Poros baru datang masa kebudayaan yang berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pertanyaan Jaspers: Apakah kebudayaan ilmu dan teknologi masa ini dapat menjadi landasan kebudayaan dunia yang baru dan akan menjadi Zaman Poros yang ke-2 ?

Selama 5000 tahun, sejarah kebudayaan manusia selalu bersifat lokal. Dengan kebudayaan yang bertumpu pada ilmu pengetahuan dan teknologi, yang sifat dasarnya adalah pencarian kebenaran universal, kemungkinan sejarah kebudaya­an yang bersifat global akan berkembang di masa yang akan datang (lihat Gambar 1.1).

Periode ke-1

Menurut tesis Jaspers, sejarah kemanusiaan dimulai dari asal-usul manusia yang satu (Der eine Ursprung der Menscheit). Untuk hal ini, Jaspers berhati-hati dan menyatakan bahwa postulat ini bersifat sementara karena secara ilmiah asal-usul manusia belum terungkap secara tuntas. Sudah lebih dari 1000 tahun dan sudah banyak teori ilmiah dikemukakan oleh berbagai kelompok pemikir, tetapi belum menemukan titik terang. Meskipun dalam bukunya Jaspers membahas tentang “apakah manusia itu” (was ist der Mensch) dari berbagai segi, tetapi masalah “apakah manusia itu” masih menjadi persoalan terbuka:

Wir blicken in ein bewegtes Meer von gestalten in denen scharfe Grenzen nur vordergriindlich, nur scheinbar bestehen, fur einen Augenblick, nichtfiir immer und absolut. Wie es aber eigentlich mit der Herkunft und Bewegung des Menschen in der unermesslichen Vorgeschichte war, weiss niemand, und wird wobl niemals wissbar sein.

Terjemahannya:

Yang kita hadapi adalah gejolak lautan luas yang terdiri atas sosok-sosok, di mana batasan yang jelas hanya di permukaannya saja, hanya seolah-olah ada, bersifat sementara dan tidak mutlak. Bagaimana sebenarnya asal-usul manusia dan dinamikanya pada kurun waktu prasejarah yang rentang waktunya seakan tak terhingga, tidak ada orang yang tahu dan mungkin tidak akan bakal diketahui (Jaspers: 49).

Teori sejarah kebudayaan ini bermula dari zaman prasejarah, di mana pada periode ini manusia sudah sadar untuk membedakan dirinya dengan jenis makhluk lain, dengan memilih cara hidup yang tidak sepenuhnya bergantung pada keadaan alam. Hal ini dapat disimak dari tindakan manusia yang sudah mengandalkan akalnya dalam menghadapi berbagai masalah hidup. Berbeda misalnya dengan simpanse yang secara genetis paling mirip dengan manusia, tetapi selama ratusan ribu tahun lamanya simpanse tidak berkembang sama sekali. Tindakan manusia prasejarah dalam menghadapi situasi kehidupan sudah menunjukkan pola kognitif tertentu, misalnya dalam menghadapi ancaman bahaya. Dalam upayanya mengatasi rasa takut mereka membuat berbagai alat bantu, atau dalam situasi yang demikian, daya pikirnya tergugah untuk menemukan sesuatu yang dapat meningkatkan kemampuan bertahannya. Selain itu, terbentuk berbagai pola perilaku, misalnya dalam hubungan antarjenis kelamin yang menghasilkan berbagai “aturan main” yang kemudian disepakati bersama, sikap terhadap kelahiran bayi dan kematian, serta sikap terhadap ayah dan ibu. Sikap dan cara manusia prasejarah telah menunjukkan sisi kemanusiaan yang membedakan dirinya dengan makhluk lainnya.

Ciri utama periode awal sejarah manusia adalah:

  1. Dalam mengatasi tantangan hidupnya manusia mulai menggunakan api dan alat bantu (tongkat, kapak, kulit pohon atau kulit binatang untuk pakaian). Tanpa alat-alat bantu seperti di atas, makhluk hidup sulit untuk dapat dikategorikan sebagai manusia.
  2. Manusia mulai menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi verbal untuk menyampaikan pikirannya dan secara tetap menggunakan simbol suara yang memiliki arti tertentu dan berlaku pada kelompok tertentu pula. Deferensiasi simbol suara ini semakin berkembang yang kemudian menjadi bahasa.
  3. Yang utama pada periode ini adalah timbulnya “kesadaran” sebagai “manusia” bahwa ia berbeda dengan makhluk lainnya. Kelompok manusia menjadi kelompok “suku” yang kemudian berkembang menjadi kelompok suku yang lebih besar, dan akhirnya menjadi kelompok sosial yang terstruktur.
  4. Tumbuhnya kesadaran pada manusia untuk mengatur hidupnya dengan menetapkan nilai-nilai tertentu, dan membuat “tabu” atau larangan serta rambu-rambu buat dirinya sendiri untuk membatasi ruang geraknya merupakan ciri pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Dengan sadar manusia membuat berbagai batasan untuk dirinya sendiri demi nilai abstrak tertentu yang, atas dasar kesepakatan bersama, dianggap benar dan menjadi pegangan hidupnya.

Rentang periode prasejarah sangat panjang, mencapai 30.000 tahun, bila dibandingkan dengan periode sejarah yang telah mengenal adanya dokumen. Harus dipahami bahwa perpindahan tahapan budaya dari tahap prasejarah ke tahap berikutnya tidak terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Di berbagai belahan dunia (seperti di pedalaman Irian, Amerika Selatan, dan Afrika), periode prasejarah masih berlangsung sampai abad 20. Sementara itu, di belahan dunia lainnya, manusia sudah menuju pada tahap budaya selanjutnya.

Periode ke-2

Kebudayaan tinggi yang timbul di aliran Sungai Nil, di Mesir, sudah ada sejak 3000 tahun sebelum masehi. Tingkat kebudayaan ini dapat dikatakan yang tertinggi dan tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Pada masa 2000 tahun sebelum masehi, kebudayaan tinggi juga ditemukan di Cina (di pinggiran Sungai Hoang-Ho). Kebudayaan tinggi lainnya ditemukan di India, 3000 tahun sebelum masehi (yang nampaknya tidak ada hubungannya dengan kebudayaan India yang datang kemudian). Meskipun pencapaian taraf kebudayaan di daerah-daerah ini sudah sangat tinggi, namun belum terjadi revolusi kejiwaan manusia (Jaspers: geistigen Revolution), seperti yang dikenal dalam periode selanjutnya, yaitu periode 3 atau “Zaman Poros” (Achsenzeit). Revolusi kejiwaan pada Zaman Poros menjadikan kemanusiaan sebagai “kemanusiaan” yang kita kenal sekarang ini.

Prestasi kebudayaan yang tercatat dalam sejarah kemanusiaan pada periode ini, antara lain:

  1. Berkembangnya “organisasi” pada berbagai sistem kehidupan. Dibuatnya aturan pengaliran dan penggunaan air Sungai Nil, Euphrat, Tigris, dan Hoangho, yang memaksa dibuatnya aturan yang bersifat memusat/ sentralisasi. Untuk pemaksaan berlakunya aturan diperlukan orang-orang yang mengatur dan mengelola, berarti timbul “pengelola” atau “para pegawai”. Dari sinilah organisasi kenegaraan tumbuh serta berkembang.
  2. Penemuan “tulisan” (Hrozny) di Sumeria pada 3300 tahun sebelum masehi, di Mesir 3000 tahun sebelum masehi, dan di Cina 2000 tahun sebelum masehi. Dengan ditemukannya tulisan yang digunakan, terutama, untuk pelaksanaan birokrasi, timbullah kelompok (kelas) sosial baru yang mengusai baca tulis, yaitu aristrokrasi intelektual.
  3. Tumbuhnya bangsa-bangsa. Dengan bahasa yang sama, mereka merasa mempunyai kebudayaan dan mitos yang sama pula.
  4. Kolonialisme atau penguasaan terhadap kelompok suku tetangganya. Bila kita pelajari, pada periode inilah terjadi pergeseran kekuasaan yang tidak ada hentinya.
  5. Penemuan manfaat kuda sebagai sarana untuk memperluas wawasan geografis. Dengan penemuan kuda, teknik berperang berubah. Manusia melepaskan diri dari keterikatannya dengan tanah dalam arti seluas-luasnya. Pengembaraan dan daya jangkau semakin luas, terjadi ekspansi, kolonisasi, dan penyebaran pengaruh.
  6. Tumbuhnya berbagai kerajaan besar. Berawal dari Mesopotamia, yang perbatasannya selalu diserang oleh bangsa-bangsa pengembara (nomaden), mulai mengalahkan dan menaklukkan tetangga-tetangganya untuk mengamankan dirinya. Setelah itu, mulai bermunculan negara-negara besar seperti Assiria, Mesir, dan kemudian dalam bentuk lain, Persia, serta negara- negara besar di India dan Cina.

Periode ke-3

Pada tahap ini, sejarah kebudayaan umat manusia mengalami perubahan yang mendasar, karena pada tahap yang oleh Jaspers disebut sebagai Zaman Poros (Achsenzeit) ini, di beberapa belahan dunia berkembang taraf peradaban dan kebudayaan tinggi yang berdampak pada jalannya sejarah. Dinamika sejarah bangsa-bangsa yang terlibat dalam poros ini mempengaruhi bentuk peradaban kemanusiaan selanjutnya. Tesis Jaspers bertolak dari pendapat bahwa dalam perkembangan sejarah manusia, Zaman Poros menjadi titik sentral yang menjadikan sejarah umat manusia mendapatkan bentuk seperti yang kita alami sekarang ini. Yang sangat penting dalam periode ke-3 adalah peletakan dasar- dasar rohani dan intelektualitas yang sudah demikian maju dengan tingkat kearifan yang tinggi hingga nilai-nilai yang diwakilinya masih menjadi dasar berpikir dan ditimba hingga kini. Yang termasuk dalam kelompok bangsa- bangsa Poros ini adalah bangsa-bangsa yang mampu melepaskan diri dari kontinuitas sejarah masa lalunya dan mampu melahirkan dirinya kembali (Jasper: Wiedergeburt): Cina, India, Iran, Yahudi, dan Yunani. Berbagai kesadaran baru hasil dari kematangan jiwa dan daya pikir menjadi dasar dari lahirnya agama-agama besar yang kemudian menjadi dasar peradaban manusia. Sebagai inti dari kebudayaan besar pada Zaman Poros adalah agama Nasrani di kebudayaan Barat (Abendland), Agama Hindu dan Budha di India, dan Agama Islam di Timur Tengah, serta kepercayaan Confusius di Cina.

Teori tentang Zaman Poros ini diperkuat oleh buku Lasaux (Neue Versuch einer Philosophie der Geschichte, Miinchen 1856) yang menyatakan hampir tidak mungkin bahwa semua hanya serba kebetulan, di mana pada waktu yang bersamaan, 600 tahun sebelum Kristus, di Persia, lahir Zarathustra, di India lahir Budha-Gauthama, di Cina lahir Confusius, di Palestina lahir para peletak dasar monotheisme, di Romawi lahir Raja Numa, dan di Yunani lahir filsuf-fllsuf pertama, yaitu loner, Dorier, dan Eleaten sebagai reformator ajaran- ajaran agama pada waktu itu. Pada Zaman Poros seolah-olah terdapat energi yang sangat besar pada dinamika kebudayaan dan peradaban manusianya yang memungkinkan arah perkembangan sejarah berikutnya mencapai dimensi lain bila dibandingkan dengan bentuk sejarah kemanusiaan sebelumnya.

Selanjutnya, Jaspers mengatakan bahwa pada Zaman Poros ini lahir filsuf-fllsuf di dunia, hal yang menurutnya belum pernah terjadi. Di Cina lahir Konfuzius (Confucius, Kong Hu Cu) dan Lao Tse serta tumbuh berbagai aliran filsafat yang diwakili oleh tokoh-tokoh filsuf, seperti Mo-Ti, Tschuang-Tse, Lie Tse, dll. Di India berkembang aliran Upanishad serta lahirnya Budha Gautama, di Iran lahir Zarathustra yang mengajarkan filsafat tentang hidup yang harus memilih antara yang “baik” dan yang “buruk”, di Palestina lahir para filsuf besar, seperti Elias, Jesaias, dan Jeremias, di Yunani yang sampai kini dianggap tempat lahirnya filsuf-fllsuf dunia, terdapat sastrawan Homer dan filsuf-fllsuf besar, seperti Parmenides, Heraklit, dan Plato.

Dalam beberapa ratus tahun saja bermunculan pemikir-pemikir besar dari tempat-tempat yang berbeda, di mana antara yang satu dengan lainnya tidak saling mengetahui. Dipelopori oleh para filsuf besar tadi, manusia dibawa pada kesadaran baru akan kehadirannya, kesadaran akan jangkauan kemampuannya, dan mengetahui keterbatasannya. Manusia mulai mempertanyakan hakikat eksistensinya, dan dengan kemampuan akal budinya mencoba mencari jawaban dan memahami dunia riil dan alam transendensi.

Abad mistik (mythische Zeitalter) lambat laun berakhir. Mulailah pertarungan antara rasionalitas dan mitos, antara logos melawan mythos. Antara kepercayaan absolut dan buta melawan pengalaman subjektif yang dapat diurai secara rasional dan diterima akal.

Seperti diuraikan di atas, nilai-nilai etika yang diletakkan pada Zaman Poros ini masih berlaku dan menjadi dasar tatanan hidup manusia hingga kini.

Semenjak Zaman Poros sampai pada terobosan sejarah tahap berikutnya diperlukan waktu 2000 tahun. Laju dan tingkat kebudayaan di berbagai belahan dunia berbeda-beda, dengan sebab-sebab yang berlainan. Di berbagai bagian dunia terjadi konsolidasi sejarah, ada yang berkembang dalam bentuk lain, ada yang statis atau hilang atau bahkan hancur sama sekali.

Periode ke-4

Tahap sejarah pada masa ini adalah tahap yang sangat menentukan bagi peradaban manusia, yaitu lahirnya kebudayaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Budaya ini lahir terutama di Barat. Untuk istilah “Barat” perlu sedikit penjelasan. Jaspers menggunakan istilah Abendland (Jerman) yang berarti “tanah senja” atau dengan istilah lain Occident (Inggris: tempat matahari terbenam) sebagai lawan dari Morgenland (Jerman: tanah, pagi) atau Orient (Inggris: Timur).

Sebenarnya, istilah Barat di sini harus dipahami pengertiannya dalam konteks yang lebih luas, karena dalam konteks pengertian sekarang, Barat adalah belahan bumi bagian Barat atau tepatnya Eropa, Amerika, dan juga sampai tahap tertentu Rusia. Pengertian Barat pada tesis Jaspers terbatas pada budaya Eropa, terutama, pada kurun waktu dari abad 10 sampai abad 18. Amerika belum termasuk dalam kerangka budaya Barat ini, dan Rusia masih termasuk dalam kelompok budaya Bysanz (Bisantinum). Sebelumnya perlu dijelaskan di sini bahwa, pada abad 10 M, ilmu pengetahuan dan teknologi bukan monopoli Barat saja, di kawasan lain juga sudah berkembang, seperti yang dapat ditemui di Cina, India, dan Arab, dengan kualitas yang lebih tinggi daripada yang terdapat di Eropa. Namun, bedanya berbagai temuan ilmu pengetahuan yang sudah maju itu tidak menjadi pemicu terhadap kesadaran sosial masyarakat (lihat Needham).

Arah jalannya sejarah di Eropa mulai berbeda dengan kawasan lain di dunia, terutama sejak tahun 1500. Ilmu pengetahuan mulai menentukan arah perkembangan sosial dan ekonomi. Berbagai temuan ilmiah yang diaplikasikan pada teknologi memberikan keunggulan pada bangsa-bangsa Eropa. Supremasi teknologi Eropa dimanfaatkan oleh negara-negara dari kawasan ini untuk menguasai kawasan-kawasan lain di dunia. Akhir abad 19, Eropa hampir menguasai seluruh dunia, hingga Hegel mengatakan: “Bahwa dunia sudah dijelajahi semua (oleh bangsa-bangsa Eropa), dan untuk orang Eropa dunia ini sudah bulat. Bila ada daerah yang belum mereka kuasai, ini karena tidak menguntungkan atau karena belum masanya saja (Jaspers).”

Sampai abad 19, apa yang dikatakan Hegel di atas merupakan suatu kenyataan. Pada abad 20, hal ini tidak berlaku lagi karena ada dua kekuatan baru di dunia, yaitu Amerika dan Rusia, dua negara raksasa yang mampu menyerap dan mengembangkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi hingga menjadi negara adidaya dan mendominasi tatanan sosial politik dan ekonomi dunia abad 20.

Salah satu faktor mengapa Eropa atau kebudayaan Barat dapat lebih maju meninggalkan budaya-budaya lainnya, menurut Jaspers, adalah adanya paduan antara kekuatan yang dijiwai oleh etos Kristen dengan dorongan religiusitas dari alam budaya Yahudi dengan keluasan pandangan yang didasari oleh alam pikir Yunani dan kemampuan mengatur dari budaya Romawi.

Dalam kurun waktu 500 tahun, lahir berpuluh-puluh pemikir di segala bidang, bidang filsafat, sains, teknik, dan seni. Dari dunia filsafat lahir filsuf-filsuf besar, seperti Bacon, Descartes, Hegel, dll. Di bidang sains lahir Galileo, Newton, dan Einstein. Di bidang teknik lahir James Watt dan Gustav Eifell. Di bidang seni rupa dan arsitektur lahir Leonardo da Vinci, Rembrandt sampai Picasso, Brunelleschi sampai Corbusier. Di dunia musik lahir Bach, Beethoven, dan seterusnya. Tidak dapat dipungkiri lagi, pengaruh mereka telah mendunia.

Dengan dasar ilmu pengetahuan alam dari Keppler dan Galilei, terbuka cakrawala baru tentang kehadiran manusia di dunia. Selain itu, berkembang pula ilmu pengetahuan dan penemuan baru, antara lain, ilmu anatomi manusia dari Vesal. Kemudian Leuwenhoek dengan mikroskopnya membuka wawasan baru tentang mikrobiologi, serta Galilei membuat teori baru tentang jagad raya dan alam semesta. Penggalian situs sejarah dan dapat dibacanya tulisan-tulisan kuno membuka pengetahuan tentang Pompeji, Mesir, dan Babilonia. Oleh karena itu, sejarah Yunani kuno lebih dikenal ilmuwan abad 18 daripada ahli-ahli Yunani pada zamannya sendiri. Dalam seni rupa, ditemukan ilmu perspektif, teknik menggambar ruang dan benda 3 dimensi di atas bidang datar dengan membuat manipulasi visual seolah-olah pada bidang 2 dimensi dapat digambarkan kedalaman ruang dan jarak. Untuk ini dikembangkan metode menggambar yang mengacu pada kaidah-kaidah ilmu geometri. Menggambar dengan teknik perspektif adalah penerapan logika sains kedalam dunia kualitatif seni rupa.

Penemuan ini merupakan konsekuensi dari keterlibatan sains pada semua segi kehidupan, yang menjadi salah satu ciri utama kebudayaan Barat pada masa itu.

Pada akhir abad 19 dan 20, penemuan dan kemajuan dalam sains dan teknologi terjadi di mana-mana, di luar batas Eropa Barat. Tumbuh tanpa saling mempengaruhi, namun berasal dari jiwa yang sama,“Zeitgeist”, atau jiwa zaman yang sama. Kemudian, ilmu pengetahuan bukan monopoli Eropa saja, ia sudah menjadi “way of live” di dunia, menjadi cara yang dianggap terbaik dalam menghadapi tantangan dan meningkatkan kualitas hidup manusia.

Untuk lebih jelasnya, Jaspers memformulasikan hakikat sains yang dirumuskan sebagai berikut:

  • Sains/ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang berdasarkan metode tertentu dan kebenarannya berlaku umum.
  • Saintifik (Scientific) adalah bila sebuah tesis dapat diterima metode pendekatannya. Dengan metode dapat dibuktikan batasan kebenaran dan alasan-alasannya.
  • Saintifik adalah mengetahui tentang suatu gejala secara pasti. Dengan demikian, akan diketahui apa yang tidak pasti, apa yang mempunyai kemungkinan untuk pasti, dan apa yang sama sekali vang tidak pasti atau yang tidak mungkin pasti.

Selanjutnya, rumusan Jaspers tentang hakikat teknologi adalah seperti berikut ini.

Teknik sebagai alat. Teknik terjadi karena kesengajaan menggunakan (tepatnya: Zwischenschiebung) alat/media untuk mencapai tujuan tertentu. Aktivitas sehari-hari, seperti bernafas, makan, dan bergerak, belum dapat dikategorikan dalam pengertian teknik. Hanya bila terjadi kesalahan dan manusia sengaja mengada-kan upaya untuk memperbaiki baru dapat dikatakan sebagai teknik, seperti teknik bernafas, teknik makan, teknik berjalan, dll.

Teknologi selalu bertumpu pada perhitungan yang berawal dari perkiraan spekulatif tentang kemungkinan yang paling baik.

Berpikir secara teknologi berarti berpikir dalam konteks mekanisme, kuantifikasi dan relasi. Teknik adalah sebagian dari proses rasionalisasi (Gambar 1.2).

Bahwa manusia menggunakan alat atau piranti untuk membantu meringankan hidupnya sudah terjadi sejak kehadiran manusia di dunia. Bertumpu pada hukum-hukum ilmu fisika, telah digunakan berbagai peralatan untuk melipatgandakan kecepatan, kekuatan, dan ketepatan energi fisik. Dengan penggunaan roda, layar, kincir, dan berbagai alat lain, manusia dapat memanipulasi sifat-sifat fisik elemen-elemen alam untuk keperluannya. Dengan demikian, teknik sudah ada semenjak sejarah ada. Berbagai prestasi teknologi sudah dicapai sejak lama. Dari penemuan bumerang sampai kapal, aquaduk, bangunan-bangunan monumental, pompa air atau alat pelempar batu (untuk perang) yang dapat melemparkan projektil seberat 20 kg sejauh 300 m.

Teknik yang digunakan di atas masih dalam kerangka hukum mekanik dan fisik yang masih mudah dipahami, dan tidak menimbulkan akibat sosial dan perubahan tata nilai dalam masyarakat. Baru pada akhir abad 18, teknik mendapat dorongan sehingga perannya menjadi sangat dominan dalam tatanan sosial. Penemuan mesin uap (1776) dan kemudian elektro-motor (1867) membongkar tatanan sosial yang ada. Peran manusia tidak lagi otonom sebagai pereka cipta, tetapi manusia berubah menjadi faktor dalam proses teknologi. Prinsip-prinsip mekanik yang sejak zaman antik mendominasi teknik diganti dengan prinsip energetik uap air dan listrik yang dapat memproduksi energi yang berlipat ganda dan dapat dimanfaatkan untuk segala kebutuhan, baik ekonomi, militer, maupun ilmu pengetahuan.

Dengan tercipta’nya dunia teknologi modern, muncul konstelasi sosial baru serta gejolak dan dinamika ekonomi yang akan berakibat jauh pada sejarah kebudayaan dunia. Menurut Jaspers, ada tiga faktor yang sangat erat kaitannya dengan timbulnya dunia teknologi modern ini, yaitu ilmu pengetahuan alam, semangat eksplorasi [Erfindungsgeist), dan organisasi kerja. Tiga faktor ini mempunyai kesamaan, yaitu memiliki sifat rasionalitas dan hubungan yang sangat erat. Salah satu faktor saja tidak ada, maka dunia teknologi modern tidak akan lahir.

Ilmu pengetahuan alam, dalam proses penemuan ilmiahnya, sama sekali tidak memikirkan aspek penerapan teknologi. Ilmu berjalan sesuai fitrahnya, mencari jawaban dari rahasia alam dan mencari kebenaran ilmiah dari gejala-gejala alam.

Setelah diolah melalui inovasi teknik, temuan ilmiah menjadi sesuatu yang aplikatif untuk kehidupan nyata.

Semangat eksplorasi atau semangat untuk selalu ingin membuat temuan baru sudah ada sejak manusia hadir di dunia. Berbagai temuan kuno di Cina, seperti teknik cetak, porselen, lak, sutera, kertas, kompas, mesiu, juga temuan-temuan lainnya di dunia, betapapun hebatnya, kalau tidak ada nilai ekonomi dan aplikasi teknis selanjutnya, akan berjalan sendiri dan tidak memiliki dampak sosial.

Organisasi kerja, hal ini sudah menyangkut masalah sosial politik. Dengan terbuka lebarnya segala kemungkinan karena intervensi teknologi dalam proses produksi, maka terdapat hubungan timbal balik antara manusia dengan mesin. Seperti telah diuraikan di atas, peran manusia berubah dari pencipta, pelaku aktif dalam proses produksi, menjadi salah satu mata rantai dalam proses produksi barang, jasa, dll. Hal ini membutuhkan tatanan baru yang memiliki cakupan sosiologis dan politis.

Itulah tiga gejala yang sebelum era teknologi modern berjalan sendiri-sendiri, ketika ketiganya menyatu dan menjadi sinergi berubah menjadi faktor pendorong terjadinya abad teknologi atau abad dominasi teknik.

Tesis Jaspers berkisar pada keyakinannya bahwa sejarah mempunyai awal dan tujuan. Dari proses sejarah yang diperkuat oleh temuan-temuan ilmiah lainnya, dapat diamati bahwa manusia berasal dari akar yang satu dan sama. Setelah melalui proses sejarah yang panjang akan menuju ke kebudayaan umat manusia yang satu dan sama pula.

Buku Jaspers yang ditulis tahun 1955 telah mengisyaratkan bahwa penduniaan kebudayaan manusia didasari oleh budaya ilmu pengetahuan yang akan menyatukan umat manusia.

Kembali pada tujuan pembahasan tulisan Jaspers ini, yaitu memaparkan asal- usul dan kedudukan desain modern dilihat dari kacamata sejarah kebudayaan nasional. Bila kita menyimak letak sejarah kebudayaan Indonesia dalam struktur sejarah kebudayaan dunia, akan jelas bahwa sampai pada periode ke-3, Zaman Poros Indonesia dengan budayanya berada dalam bayang-bayang pengaruh Hindu. Kemudian Islam tidak terlibat dengan lahirnya kebudayaan sains dan teknologi yang berkembang di Barat. Kebudayaan non-Barat, apakah Islam, Byzantinum, Hindu, atau Cina, baru bertemu dengan kebudayaan sains dan teknologi pada abad 18 dan 19, melalui pengalaman pahit kolonialisasi Eropa terhadap bangsa-bangsa Asia, Afrika dan penduduk asli Amerika. Keterlibatan sains dan teknologi dalam wacana budaya di Indonesia relatif masih sangat muda. Bila pendirian TH Bandung dapat dianggap sebagai awal pengembangan teknologi di Indonesia, maka baru sekitar tahun 1920-an kebudayaan Indonesia bersentuhan dengan sains dan teknologi. Bila pembangunan fisik industrialisasi dianggap sebagai awal keterlibatan teknologi dalam pembangunan di Indonesia, maka baru sekitar tahun 1960-an dapat dipakai sebagai patokan. Memang benar, Pemerintah kolonial Belanda telah mendirikan pabrik-pabrik mesin yang cukup besar di beberapa kota di Indonesia (Yogya, Surabaya, Jakarta), tetapi pabrik-pabrik mesin ini sifatnya masih lokal, sekadar sebagai pusat layanan untuk kebutuhan terbatas, terutama melayani pabrik gula dan berbagai agro- industri mereka.(1)

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa desain modern(2) berasal dari kerangka budaya ilmu pengetahuan dan teknologi yang lahir di Barat (Eropa) dan kemudian melalui proses, selama kira-kira 100 tahun, baru menyebar ke Asia dan kemudian Indonesia.

(1) Indonesia berkenalan dengan “simbol teknologi modern” pada tahun 1850, ketika sebuah pabrik gula di Probolinggo (Jawa Timur) menggunakan mesin uap (Ong Hok Ham, 2003)

(2) Kata desain modern adalah penegasan dari pengertian desain yang terbatas, di mana pengertian desain hanya identik dengan kreativitas peraneangan produk tertentu saja. Kata modern dimaksudkan untuk pengertian desain yang lebih luas, di mana dalam prosesnya, dari gagasan sampai pada produk keluarannya, dilibatkan kaidah-kaidah saintifik dan teknolopik (Lihat Jaspers).

About

Roisun Kubangcalingcing

Posted in ps2 / winning eleven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Winning Eleven's Stats
  • 8,715,098 Gamers Coming
BELAJAR BISNIS EASY
DAFTAR ISI
Recent Cheat
Statistic
%d bloggers like this: