Peringatan Maulid Nabi Muhammad

Berawal dari Perang Salib (1905-1291) dan masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193) di Irak. Menurut Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada nabi mereka yang pada waktu itu sedang berjuang melawan pasukan kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem dan sekitarnya. Dia menghimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul-Awal, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini dirayakan secara massal. Pada awalnya gagasan ini ditentang oleh para ulama, karena pada zaman nabi hali itu tidak pernah dilakukan. Lagipula hari raya resmi menurut ajaran agama hanya ada dua, yaitu Idulfitri dan Iduladha. Tetapi menurut Salahuddin, perayaan nabi hanyalah kegiatan yang membantu menyemarakkan syiar agama. Masih menurut Salahuddin, karena ini bukan perayaan yang bersifat ritual, maka tidak termasuk kategori bid’ah yang terlarang. Bid’ah atau biddah yaitu sebuah perbuatan yang tidak pernah diperintahkan maupun dilakukan oleh Nabi Muhammad.

Untuk mendukung gagasannya, Salahuddin meminta persetujuan dari Khalifah An-Nashir di Baghdad. Atas persetujuan sang Khalifah, pada ibadah haji bulan Zulhijjah 579 Hijriyah (1183 M), Sultan Salahuddin sebagai penguasa Haramain (Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah agar kembali ke kampung halaman dan mulai menyebarkan kepada masyarakat Islam dimana saja bahwa mulai tahun 580 Hijriyah (1184 M) tanggal 12 Rabiul-Awal diperingati Maulid Nabi Muhammad dengan berbagai kegiatan keagamaan yang bertujuan untuk membangkitkan semangat umat Islam.

Seperti yang diinginkan Salahuddin, semangat umat Islam dalam menghadapi Perang Salib kembali bergelora. Salahuddin berhasil menggalang kekuatan yang berbuah pada tahun 583 Hijriyah (1187 M) Yerusalem berhasil direbut dari bangsa Eropa dan masjid Al-Aqsa menjadi masjid kembali sampai saat ini.

Beralih ke Indonesia. Dalam sejarah penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, perayaan Maulid Nabi dimanfaatkan oleh para Wali Songo untuk sarana berdakwah yang diikuti berbagai kegiatan yang menarik masyarakat untuk mengucapkan Syahadatain (dua kalimat syahadat) sebagai pertanda telah memeluk agama Islam. Banyak kalangan yang menyebutnya sebagai perayaan Syahadatain yang pada akhirnya oleh karena lidah Jawa sekarang menjadi perayaan Sekaten. Dua kalimat syahadat dilambangkan dengan dua buah gamelan ciptaan Sunan Kalijaga, Kiai Nogowilogo, dan Kiai Gunturmadu yang ditabuh dihalaman masjid Demak pada waktu perayaan maulid nabi. Sebelum menabuh gamelan tersebut, orang-orang yang baru masuk Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat terlebih dulu memasuki pintu gerbang “pengampunan” yang disebut gapura (Arab : ghafura, Dia mengampuni).

Peringatan Maulid Nabi Muhammad yang setiap kali dirayakan, diharapkan dapat memberi refleksi untuk mendekatkan diri terhadap sifat Rasullah SAW yang senantiasa sabar, tegar, tawakkal, serta bersyukur kepada Allah SWT dalam menghadapi tantangan dan ujian.

About

Roisun Kubangcalingcing

Posted in ps2 / winning eleven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Winning Eleven's Stats
  • 8,715,092 Gamers Coming
BELAJAR BISNIS EASY
DAFTAR ISI
Recent Cheat
Statistic
%d bloggers like this: