wawancara dengan Claude Levi-Strauss yang diangkat dari Majalah Spiegel,

Suatu wawancara dengan Claude Levi-Strauss yang diangkat dari Majalah Spiegel, oleh Dieter Brumm, Karla Fohrbeck, Gustav Stern dan Wolfgang Gust. Der Spiegel, Ham¬burg, No. 53/1971). Diterjemahkan dari “Der Humanismus bedroht den Menschen”, Ein SPIEGEL-Gespraech. Dalam: Claude Levi Strauss, Mithos und Bedeutung. Vortraege. Frankfurt, Suhrkamp Verlag, es 1027, Neue Folge Band 27, 1980, him. 219-235. Sebagian teks wawancara tersebut adalah seperti terlampir di bawah ini.

Spiegel:
Tuan Levi-Strauss, orang menyatakan bahwa dengan menyelidiki bangsa-bangsa primitif Anda sebetulnya melarikan diri ke dalam suatu dunia yang utuh, sedangkan untuk masyarakat modern Anda meramalkan semacam masa senja (Goeterdaemmerung). Apakah Anda pesimis tentang kebudayaan?

Levi-Strauss:
Saya tidak takut untuk mengatakan sejak awal bahwa saya memang sangat pesimis. Bila saya memilih mengabdikan diri di bidang penelitian masyarakat eksotis yang sangat berbeda dengan masyarakat modern kita, saya memilihnya karena saya merasa kurang senang dengan abad kedua puluh ini, yaitu masa kelahiran saya.

Spiegel:
Apa dasar pesimisme Anda ?

Levi-Strauss:
Agaknya Anda merepotkan saya dengan menanyakan hal-hal yang tentangnya saya merasa kurang kompeten. Benarlah bahwa saya tidak terlalu optimis tentang masa depan umat manusia yang jumlahnya terus bertambah pesat, sehingga manusialah yang sebenarnya menyesakkan diri sendiri sebelum hal-hal yang paling esensial seperti udara, air, ruang dan sebagainya mulai berkurang.

Spiegel:
Beberapa filsuf dewasa ini mengecam Anda karena Anda menganggap aturan masyarakat modern bersifat kurang manusiawi dibandingkan masyarakat primitif.

Levi-Strauss:
Nah, saya bukan seorang filsuf. Kebetulan karier membuat saya dan sejumlah rekan etnolog menjadi saksi dari suatu cara hidup yang sungguh berbeda dari cara hidup kita yang sebagian besar bahkan telah melenyapkan
cara hidup primitif. Saya merasa berkewajiban secara moral untuk memberi kesaksian, yaitu membaktikan seluruh hidup dan tenaga demi tercapainya bentuk ma¬syarakat yang memungkinkan bangsa manusia berkembang selama ribuan tahun, tetapi yang kini mulai lenyap karena kita sendiri memang menghendaki supaya hal itu terjadi

Spiegel:
Tetapi bagaimanapun Anda membandingkan masyarakat primitif yang Anda pelajari dengan masyarakat modern.

Levi-Strauss:
Sebenarnya kedua tatanan masyarakat itu tidak dapat lagi dibandingkan. Tidak dapat dibayangkan sama sekali bahwa kita dapat kembali pada keadaan primitif atau menghidupkannya kembali sebab justru kini kemungkinan bagi adanya masyarakat “eksotik” ditiadakan.
Spiegel:
Jadi, apakah kita tidak dapat mengatakan bahwa ma¬syarakat primitif bersifat lebih manusiawi dan mungkin lebih “progresif” daripada tatanan masyarakat modern dewasa ini ?

Levi-Strauss:
Menurut hemat saya, tidak dapat diragukan bahwa ma¬syarakat primitif bersifat progresif sebab akhirnya ma¬syarakat primitiflah yang menemukan sejumlah karya seni budaya yang masih menjadi landasan bagi kita de¬wasa ini. Misalnya, penggunaan api, pembuatan tembikar, tenunan, cara mengolah tanah, cara menjinakkan binatang, semuanya itu diupayakan oleh orang-orang pada zaman dan kurun sejarah yang setara dengan seluruh masyarakat “eksotik” yang kini masih ada.

Spiegel:
Hal itu hanya menyangkut perkembangan teknis. Namun, diskusi filosofis yang terjadi antara Anda dan beberapa pemikir Marxis, seperti juga Sartre, bertitik tolak dari fakta bahwa Anda membandingkan masyarakat primitif dan masyarakat modern atas dasar titik pandang mengenai peranan yang dimainkan oleh perikemanusiaan dan kesadaran historis. Orang mengkritik Anda sebagai bersikap konservatif karena Anda berpendirian bahwa dalam sejarah tidak terdapat hal perikemanusiaan.

Levi-Strauss:
Anda melontarkan terlalu banyak pertanyaan secara serentak. Baiklah saya akan menyoroti pertanyaan terakhir, yaitu mengenai soal kemajuan. Fakta tentang kemajuan teknologis memang ada. Hal itu sedemikian jelas sehingga saya tidak perlu lagi membahasnya. Namun, hal yang menurut hemat saya sama jelas ialah bahwa kemajuan teknologis itu jugalah yang menyebabkan manusia terpaksa mengorbankan sejumlah nilai yang terikat pada masyarakat “eksotik”. Dan tidak terdapat kriteria filosofis maupun moral yang memungkinkan kita mengatakan bahwa yang ini lebih baik daripada yang itu.

Spiegel:
Tetapi apakah kita dapat melepaskan diri dari upaya mengembangkan perilaku yang lebih manusiawi dalam masyarakat dewasa ini ?

Levi-Strauss:
Di mana-mana perikemanusiaan terutama terdiri dari relasi antarpribadi yang saling mengenai. Itulah sebabnya mengapa hidup dalam suatu kelompok kecil bersifat lebih manusiawi daripada dalam sebuah kota besar karena manusia bukan dipandang sebagai nama dan nomor semata-mata, melainkan sebagai seorang pribadi dengan watak dan temperamen khas yang dikenali oleh semua orang lainnya. Namun Anda menghadapkan saya pada berbagai masalah yang tidak saya gumuli, sebab jenis masyarakat yang saya pelajari sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan masyarakat modern kita dan juga karena saya tidak perlu menganjurkan berbagai resep untuk memperbaiki tatanan masyarakat kita sendiri. Ada orang lain yang menamakan diri pakar sosiologi atau politikus yang berurusan dengan hal itu. Saya bukan seorang sosiolog atau politikus.

Spiegel:
Sartre dan beberapa pengikut Marx lainnya mencela Anda karena strukturalisme mengandung suatu sikap berpaling dari humanisme. Anda mengenal tuduhan yang bagi Anda tentunya bukan hal baru.

Levi-Strauss:
Saya berpendapat bahwa celaan tersebut didasarkan pada suatu kekeliruan ganda, yaitu kekeliruan teoretis dan kekeliruan praktis. Kekeliruan teoretisnya ialah bahwa saya belum pernah menyangkal siapa pun untuk mempelajari manusia pada tingkat penelitian yang dipilihnya. Namun, yang saya bantah adalah pendirian yang disebut monopolistik itu, yakni manusia hanya dapat didefinisikan dan dipelajari pada satu tingkat tunggal saja.
Spiegel:
Tetapi keputusan memilih satu tingkat tertentu juga merupakan suatu prakeputusan dalam penelitian.

Levi-Strauss:
Jika Anda memandang suatu tetes air dengan mata telanjang, Anda tidak akan melihat apa-apa. Namun jikalau anda menempatkan setetes air itu di bawah sebuah mikroskop elektron yang membesarkannya 50.000 kali, Anda akan melihat hal-hal yang berbeda sama sekali. Demikian pula halnya dengan usaha mempelajari ma¬nusia. Mereka yang menamakan dirinya Humanis me¬mandang manusia menurut sudut pandangan sama seperti orang memandang setetes air yang diperbesar sedikit. Tampaklah sejumlah binatang kecil sebagai makhluk individual yang memang ada, saling memerangi dan saling mencintai. Namun, kita tahu bahwa ilmu hanya ada karena kita telah mengerti bahwa se¬jumlah fenomena tidak bisa dipandang dari satu tingkat saja. Kemampuan pembesaran yang tinggi menyebabkan bahwa makhluk hidup tadi hilang sama sekali. Lantas yang kelihatan hanyalah molekul-molekul saja. Jika pembesaran mikroskop ditingkatkan lagi, Anda dapat mengamati sejumlah atom di balik molekul-molekul tadi.

Spiegel:
Kalau demikian, apakah Strukturalisme hanya merupakan suatu metode penelitian dan tidak mempunyai teorinya sendiri ?

Levi-Strauss:
Bukan demikian. Pada dasarnya hal itu hanya menyangkut suatu sikap ilmiah tertentu. Cukuplah mengenai soal kekeliruan teoretis. Namun, masih terdapat aspek kedua, yaitu aspek praktis. Akhirnya, kita harus memberi pertanggungjawaban tentang soal bahwa sikap humanistik yang absolut dan yang meraja sejak zaman Renaisans, dan rupanya berasal dari agama-agama besar di Barat, membawa akibat yang sangat katastrofal. Selama beberapa abad Humanisme menyebabkan peperangan, pemusnahan, kamp konsentrasi, dan pembasmian berbagai jenis makhluk hidup. Kita mempermiskin alam. Sikap yang berlebih-lebihan itulah yang mengancam manusia sendiri, yaitu sikap percaya bahwa dengan sewenang-wenang ia dapat memiliki dan menguasai segala-galanya

Spiegel:
Orang mempersalahkan strukturalisme, bukan hanya sebagai Anti-Humanisme, melainkan juga sebagai upaya menyisihkan sejarah, yakni suatu usaha yang pada dasarnya tidak bersifat antihistoris.

Levi-Strauss:
Celaan itu sama seperti celaan lainnya yang kurang beralasan. Kami kaum etnolog menelaah masyarakat yang sejarahnya sama panjang dengan sejarah masya¬rakat kita. Hanya masyarakat tradisional dan eksotik itu tidak memperhatikan sejarahnya. Oleh karena itu, mereka tidak memiliki arsip lewat mana kita dapat menemukan kembali seluruh sejarah masyarakat itu. Untuk mempelajarinya, kita harus menciptakan suatu metode yang dapat menggantikan ketiadaan sejarah tersebut. ltulah situasi yang dihadapi oleh seorang etnolog, ia merasa sungguh puas kalau dapat menggunakan unsur-unsur sejarah yang masih tersisa. Namun, yang saya bantah ialah bahwa sejarah dianggap sebagai suatu hal istimewa diantara segala kemungkinan pengetahuan. Tentu saja sejarah merupakan suatu sarana pengetahuan yang istimewa, sejauh menyangkut tatanan masyarakat Barat modern yang mendefinisikan diri terhadap sejarah. Saya tidak percaya kita dapat mengatakan bahwa hal itu biasanya demikian. Di sini perselisihan hanya dapat muncul dengan mereka yang mengangkat metodenya sendiri sebagai satu-satunya metode yang sah dan benar.

Spiegel:
Profesor Levi-Strauss, dalam buku Tristes Tropiques (Paris, 1955) Anda secara mencengangkan merujuk pada Richard Wagner. Apakah Anda menaruh perhatian pada Richard Wagner, khususnya di bawah aspek “Goetterdaem-merung?”

Levi-Strauss:
Sering saya menghabiskan seluruh pekan dengan mendengarkan siaran langsung Wagner dari Bayreuth. Dalam jilid keempat dan terakhir dari Mythologiques (1971) yang diterbitkan dengan judul I’homme nu (Manusia telanjang), saya menjelaskan alasannya. Saya mengatakan bahwa pada saat runtuhnya mitologi sebagai bentuk ekspresi yang dominan, semua struktur pikiran mitis diambil alih oleh musik. Isi dan pesan dari mitos beralih ke Roman, sedangkan bentuk mitos diambil alih oleh musik.

Spiegel:
Kapan hal itu terjadi?

Levi-Strauss:
Gejala itu bermula dari Bach, berkembang pada para pengikutnya dan mencapai bentuknya yang sadar pada Wagner. Wagnerlah yang dengan suatu intuisi mengagumkan dapat memahami bahwa mitos dan musik semakin saling mendekati. Seakan-akan merupakan takdir mereka untuk bersatu padu. Secara luar biasa Wagner menciptakan jenis perpaduan tersebut.

Spiegel:
Jadi, benarkah Wagner adalah seorang komponis yang Strukturalistis ?

Levi-Strauss:
Seluruh teori mengenai “Leitmotif” (nada/ide dan sebagainya yang selalu diulang) itu sendiri bersifat strukturalistis. Dan sebagaimana Anda ketahui, Struktural¬
isme sebenarnya memang berasal dari Jerman.

Spiegel:
Apakah Anda dapat menjelaskan pikiran itu secara lebih rinci ?

Levi-Strauss:
Orang selalu berkata kepada saya bahwa di Jerman orang merasa sangat segan terhadap Strukturalisme. Namun, apabila kita berusaha menelusuri proses perkembangan, hingga pada saatnya yang paling awal, di manakah Strukturalisme berawal di dunia modern ? Di Eropa, Duerer merupakan awalnya. Dengan terbitnya Vier Buecher von menschlicher Proportion (1928) dan dengan gagasan bahwa kita dapat bertolak dari satu bentuk wajah dan mencapai bentuk wajah yang lain melalui transformasi (pengubahan bentuk) geometris, maka Strukturalisme berawal. Dan oleh Goethe. Dalam karyanya tentang morfologi tumbuhan (1790), dijelaskan bahwa daun dan bunga terbentuk berdasarkan transformasi antara yang satu terhadap yang lainnya, dan pikiran itu bersifat Strukturalistis. Karena itu, sama sekali tidaklah mengherankan bahwa Wagner berada dalam deretan turunan itu.

Spiegel:
Anda mengatakan juga bahwa untuk mengurangi sikap intoleransi tidaklah cukup dengan mengubah ide-ide saja. Kita juga harus mengubah segala syarat alamiah
dalam hubungan antara manusia modern dan alam. Dan bagaimana pandangan Anda mengenai masa depan semua masyarakat primitif yang masih tersebar di dunia ?

Levi-Strauss:
Nasib semua masyarakat primitif itu ialah bahwa mereka akan runtuh dan hilang lenyap. Hal itu membuat saya menjadi sangat sedih.wawancara dengan Claude Levi-Strauss yang diangkat dari Majalah Spiegel,

About

Roisun Kubangcalingcing

Posted in ps2 / winning eleven
One comment on “wawancara dengan Claude Levi-Strauss yang diangkat dari Majalah Spiegel,
  1. Irfan Daud says:

    Sangat menarik. Ini membuat kami tambah yakin untuk berada dalam tradisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Winning Eleven's Stats
  • 8,715,098 Gamers Coming
BELAJAR BISNIS EASY
DAFTAR ISI
Recent Cheat
Statistic
%d bloggers like this: